sebuah catatan kecil dari imajinasi anak kita
Di tengah pelajaran SBK yang seharusnya penuh warna dan imajinasi, tiba-tiba satu suara kecil memecah riuh kelas.
“Pak, saya ingin jadi arsitek.”
Kalimat sederhana itu seketika menghentikan lelah.
“Wow, itu cita-cita yang keren,” jawabku spontan.
Arsitek—profesi yang tak hanya membangun gedung, tapi juga merancang masa depan. Aku melihat matanya berbinar ketika bercerita tentang menggambar dan mendesain. Tanpa ia sadari, ia sudah menapakkan satu kaki pada mimpinya sendiri.
Namun di sudut-sudut kelas, realita lain berjalan beriringan.
Sebagian siswa larut dalam layar ponsel, jari-jari lincah bermain Mobile Legend. Sebagian lain melingkar, tenggelam dalam obrolan yang entah ke mana arahnya. Kehadiran guru seolah hanya latar, bukan pusat cerita.
Di sanalah hati ini berkecamuk.
Antara ingin menegur keras atau memilih diam.
“Jangan terpancing emosi yang menghabiskan waktu produktifmu, mbah,” bisik hati, lirih namun menenangkan.

Aku tersadar, mungkin tugasku bukan sekadar mengajar materi, tapi menjaga agar satu mimpi kecil—seperti cita-cita menjadi arsitek tadi—tidak padam oleh kebisingan zaman.
Karena sering kali, satu anak yang bermimpi dengan sungguh-sungguh adalah alasan paling kuat untuk tetap bertahan di kelas ini. 😢
